Jumat, 24 Oktober 2008

SEJARAH SINGKAT TETADA KALIMASADA

Wawancara khusus dengan Bapak Ir. Eddy Surohadi, Guru Besar Tetada Kalimasada

Bekal dari orang tua , serta pengalamannya menggeluti keilmuan tenaga dalam ditambah masukan-masukan dari adik-adiknya, serta dukungan dari istri tercinta merupakan bekal bagi Ir.Eddy Surohadi untuk mewujudkan cita-citanya menciptakan suatu metodologi keilmuan tenaga dalam. Dengan bermunajad kepada Allah SWT akhirnya terwujudlah suatu metodologi keilmuan Tenaga Dalam yang praktis dan modern dengan menjauhi hal-hal yang berbau mistik dan syirik.

Metodologi keilmuan ini kemudian diberinya nama "Kalimasada". Muridnya yang pertama belajar metodologi keilmuan ciptaanya ini adalah istrinya dr. Ida Surohadi beserta adik kandungnya yang nomor enam. Istrinya, dr. Ida Surohadi selanjutnya diserahi tanggung jawab membina bidang kepelatihan sebagai Ketua Dewan Pelatih Pusat sampai sekarang.

Setelah Oktober 1994 adiknya yang nomor tujuh, Drs.Joko H. Suroso diserahi tanggungjawab untuk membantu membina bidang keilmuan, adiknya yang nomor tujuh ini tekun mempelajari ilmu Tetada Kalimasada langsung dari sang kakak sulungnya tersebut dan banyak memberikan masukan-masukan yang bermanfaat bagi perkembangan keilmuan LPI Tetada Kalimasada.

Selanjunya semua adik-adiknya belajar metodologi keilmuan ini. Istri dan adik kandungnya inilah yang banyak membantu perkembangan Tetada Kalimasada. Diantara adik-adiknya tersebut yang paling menguasai dan aktif mengembangkan metodologi keilmuan Tenaga Dalam ciptaan Ir. Eddy Surohadi ini adalah Drs. Ec. Joko Heruroso dan dr. Ida Surohadi, sang istri. Kedua orang ini pulalah yang aktif ikut membantu mengembangkan organisasi Lembaga Pengembangan Ilmu Terapi Tenaga Dalam Tetada Kalimasada sampai saat ini.

Pengenalan keilmuan Tetada Kalimasada kepada masyarakat umum dimulai pada acara ujian anggota perdana yang pertama yang dilaksanakan di Hotel ELMI Surabaya pada tanggal 24 November 1991. Tanggal inilah yang selalu diperingati setiap tahun sebagai tanggal berdirinya Tetada Kalimasada Indonesia. Pada saat itu Ir.Eddy Surohadi memprakarsai berdirinya Lembaga Pengembangan Ilmu Beladiri Tenaga Dalam Tetada Kalimasada dengan mengajak adik, istri dan teman-temanya untuk bergabung dengan Lembaga yang yang didirikannya itu. Pada saat itu Lembaga ini memfokuskan kegiatannya pada keilmuan bela diri tenaga dalam dengan nama Lembaga Pengembangan Ilmu Beladiri Tenaga Dalam Kalimasada.

Tetapi pada 25 Oktober 1992 orientasi pelatihan lebih dititikberatkan pada Terapi untuk kesehatan. Berkaitan dengan itu nama Lembaga disesuaikan menjadi Lembaga Pengembangan Ilmu Terapi Tenaga Dalam Kalimasada. Sejak berubah menjadi olahraga terapi tersebut Kalimasada berkembang lebih pesat. Selanjutnya pada ulang tahun ke-3 Kalimasada di Gedung Go Skate Surabaya 25 Oktober 1994 diresmikan nama baru Kalimasada menjadi Lembaga Pengembangan Ilmu Terapi Tenaga Dalam Tetada Kalimasada (LPI Tetada Kalimasada).

Sejak awal berdirinya Tetada Kalimasada banyak didukung oleh kalangan medik. Kalangan medik ini banyak membantu dalam memberikan masukan-masukan yang berkaitan dengan kesehatan.

Pengembangan Kalimasada di Luar Negeri

Pengembangan di luar negeri dimulai dari presentasi Tetada Kalimasada di Rotary Singapura kemudian disusul dengan dilatihnya anggota perdana pertama bertempat di KBRI Singapura (Januari 1993).

Selanjunya pada medio Pebruari 1993 Team Pengembangan Tetada Kalimasada ke luar negeri menghadap pimpinan negara pada saat itu untuk untuk minta ijin/ dukungan rencana pengembangan Tetada Kalimasada ke Amerika, pimpinan negara saat itu mendukung pengembangan Kalimasada ke luar negeri. Selanjutnya Ir. Eddy Surohadi bersama team berangkat ke USA untuk menyelenggarakan Ujian Perdana Pertama di Skyline Theatre Houston Texas disusul ujian-ujian perdana di Tuscon, Los Angeles dan San Francisco.

Perkembangan di USA menjadi makin berarti setelah diselenggarakan seminar di Wisma Indonesia di Tilden Street Washington DC pada bulan Juni 1994 yang diselenggarakan oleh Duta Besar RI di USA Dr. Arifin Siregar dengan mengundang para Diplomat dan warga negara Indonesia di Washington DC.

Sebagai pembicara tunggal resmi pertama di USA tersebut adalah Ir. Eddy Surohadi didukung oleh demo para anggota yang berdatangan dari Los Angeles dan Tucson.. Selesai seminar Bapak Dubes RI untuk USA, Dr. Arifin Siregar beserta Ibu dan para Pejabat Indonesia di KBRI serta beberapa warga masyarakat menyatakan ikut bergabung mengikuti pelatihan Tenaga Dalam Kalimsada, memelopori angkatan pertama Kalimasada Washington DC.

Perkembangan Kalimasada di Eropa

Setelah mengadakan seminar di Washington DC, Ir. Eddy Surohadi melanjutkan perjalanannya ke Nederland bertempat di Ryswik Ir.Eddy Surohadi menjadi pembicara tunggal serta melakukan demo yang didukung oleh Drs.Utomo Yosodirjo (Asisten Pelatih dari Jakarta). Penyelenggara seminar adalah perkumpulan warga Tionghoa keturunan Indonesia di Ryswik.

Seminar besar ini mengundang para peserta dari seluruh Nederland dan negara-negara di sekitarnya. Tidak kurang dari 300 orang hadir pada acara tersebut. Setelah seminar ada sekitar 60 orang yang menyatakan diri bergabung menjadi anggota perdana Kalimasada di Nederland.

Pada periode berikutnya Tetada Kalimasada membuka cabang di Amsterdam kemudian terus berkembang ke negara-negara sekitarnya, yaitu Finlandia, Swedia, Belgia, Jerman, dan Austria.

Pada bulan Mei 1998 Ir. Eddy Surohadi menyelenggarakan Seminar Internasional ke-3 bertempat di markas besar OPEC Wina Austria, seminar ini dibuka langsung oleh Sekjen OPEC Dr. Rilwanu Lukman. Bertindak sebagai pembicara pada saat itu adalah Ir.Eddy Surohadi dibantu oleh Dr. Abdul Muin (anggota Tetada Kalimasada Austria yang menjadi staf di OPEC). Demo dipimpin oleh Drs. Suhartono (Ketua Tetada Kalimasada Austria). Selesai seminar hampir seluruh peserta seminar mengikuti Pelatihan Tetada Kalimasada. Sekjen OPEC beserta ibu juga mengikuti latihan tingkat Perdana.

Perkembangan di Indonesia

LPI Tetada Kalimasada berkembang dengan cepat di Indonesia. Hingga saat ini telah menjangkau 80 daerah dengan sekitar 240 cabang dan unit latihan di seluruh Indonesia. Jumlah peserta yang terdaftar saat ini lebih kurang 80.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.

* * *

All contents Copyright © 2000 by LPI Tetada KALIMASADA. All rights reserved.
Suggestions and comments should be directed to: Kalimasada - Indonesia.

This website was dedicated by :

Paulus Sugistino Hakim, SE

(member of LPI Tetada Kalimasada, Cab. Bank Danamon - Prapatan, Jakarta II)

Kembali ke atas

1

BUMG KARNO DALANG G 30 S / PKI

How to Boost Your Business

Bung Karno Dalang G30S/PKI?

November 22nd, 2005 | Politics

Baru-baru ini, Antonie Dake merilis buku karyanya yang dipandang banyak pihak mendiskreditkan peran Soekarno dan memutarbalikkan fakta sejarah masa itu. Buku itu berjudul Sukarno: Berkas-berkas Soekarno 1965 – 1967. Boleh jadi, buku tersebut memberi sensasi yang tak kalah ramainya dari gosip selebritis atau isu reshuffle di pemerintahan.

Berbeda dari jaman orde baru dulu, dalam era reformasi seperti ini, praktis setiap orang bebas dan berhak untuk menyatakan pendapat atau menerbitkan buku tanpa ada upaya untuk menghambat atau menghalangi atas kepentingan tertentu, sehingga kedewasaan sikap dan kejernihan berpikir kita benar-benar dituntut agar tidak berujung pada dendam atau permusuhan.

Pada acara peluncuran bukunya, secara gamblang Dake berpendapat bahwa Soekarno adalah mastermind kudeta 1 Oktober 1965. Dake juga menyebutkan bahwa Central Intelligent Agency (CIA) maupun Mayjen Soeharto kala itu, tidak memiliki keterkaitan yang kuat. Pernyataan tersebut langsung mendapat respon keras dari Sukmawati Soekaroputri, yang juga ketua Partai Nasional Indonesia Marhaen, Red Banteng.

Dake adalah seorang akademisi dari Belanda yang memperoleh gelar PhD di bidang ilmu politik di Universitas Freire, Berlin. Ia pernah menjadi wartawan dan CEO pada perusahaan media massa. Dake secara kebetulan juga pernah menulis buku In the Spirit of the Red Banteng: Indonesia Communism between Moscow and Peking yang merupakan disertasinya untuk memperoleh gelar doktor. Sayang, buku tersebut dilarang beredar di Indonesia.

Salah seorang teman yang telah membaca buku ini mengeluh karena isinya sama sekali tidak ilmiah. Ia justru mempertanyakan kapasitas keprofessoran yang diperoleh Dake dari pendidikan di barat. Tesis Dake memang sangat argumentatif, apalagi bukti-bukti sejarah yang mendukung masih merupakan ”dokumen tertutup”. Kita mungkin juga ingat sekitar awal tahun 1990an sempat terbongkar bahwa CIA mempunyai banyak wartawan dan penulis dalam “daftar gajinya”, yang menulis menurut dan sesuai dengan pengarahannya. Memang segalanya serba mungkin, apalagi sehubungan dengan badan intel ini.

Memang saya tidak bisa banyak bercerita tentang pemerintahan Soekarno. Akan tetapi, mengenai kemungkinan keterlibatan Bung Karno terhadap G30S/PKI saya mungkin bisa menjawab: bisa-bisa saja. Tidak tertutup kemungkinan untuk itu. Analogi tentang pengingkaran Bung Karno terhadap G30S/PKI sebenarnya sama saja dengan pengingkaran Pak Harto terhadap insiden 13 Mei. Pengalihan tanggung jawab 13 Mei disebabkan oleh ketidakadilan sosial dalam ras sebagai kambing hitam.

Sukmawati, yang juga hadir pada acara launching buku tersebut, menolak tesis Dake dengan alasan tidak logis karena Soekarno justru jatuh akibat G30S/PKI, seperti halnya Soeharto yang jatuh akibat Mei 1998. Namun, bisa juga diambil analogi bahwa kejatuhan Soeharto adalah konsekuensi skenario yang gagal dalam represi untuk menangkap mahasiswa dan tokoh oposisi seperti ingin mengulang Malari 74. Sayangnya (atau untungnya?) mahasiswa bukannya turun ke jalan melainkan justru menduduki Gedung MPR/DPR. Sesuatu yang mungkin jauh dari prediksi Pak Harto kala itu.

Saya juga pernah berjumpa dengan Pak Harto, walau tidak secara personal. Memang terlihat bahwa beliau adalah orang yang relatif baik, terlepas dari sikap politisnya yang banyak mengundang kritik. Saya rasa, Bung Karno pun juga demikian. Beliau tetap merupakan proklamator bangsa, pahlawan besar dengan kepribadian kuat dan sikap yang perlu diteladani. You all had my respects.

Saat ini saya masih menunggu kiriman buku itu dan belum membacanya. Tapi, apapun isi tulisan tersebut, seharusnya tidak perlu diperpanjang lagi kecuali sekedar sebagai bahan referensi saja. Kondisi negeri ini sudah cukup ricuh dan semrawut. Seharusnya kaum intelek seperti Dake mampu menghadirkan ketenangan dan mempercepat proses pemulihan bangsa ini, bukannya memperkeruh suasana sehingga menimbulkan gonjang-ganjing di dunia persilatan ini. Padahal, nyaris tidak ada dampak konkrit yang secara langsung dapat dinikmati oleh rakyat jelata